Menuju Ridho Allah Dalam Menuntut Ilmu





BAHAN RENUNGAN

Berkembangnya pemikiran yang menjurus kepada pemahaman bahwa aturan Islam sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern karena perkembangan sains dan teknologi yang begitu cepat menjadi sesuatu hal yang perlu diluruskan. Pemikiran tersebut akan menjadi jurang pemisah yang semakin lebar antara aturan Islam dengan sains dan teknologi modern.  Pada gilirannya, akan mengakibatkan terjadinya pengkultusan terhadap ilmu itu sendiri dengan menganggap bahwa segala permasalahan yang dihadapi di muka bumi ini hanya dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan modern.

Pemikiran tersebut bukan saja lahir dari kalangan non-muslim tetapi  juga berasal dari kaum muslimin itu sendiri yang meletakkan ilmu pengetahuan modern di atas segalanya dan menganggap bahwa aturan Islam tidak mampu menjangkau ilmu pengetahuan modern tersebut. Pemahaman tersebut berakibat kepada pengikisan nilai-nilai Islam dan lambat laun akan meninggalkan aturan Islam sebagai fondasi berfikir.

Dominasi  ilmu pengetahuan modern yang digerakkan oleh peradaban Barat non-Islam menjadi faktor yang sangat besar dalam kemunduran umat Islam padahal dalam sejarah awal berkembangnya, ilmu pengetahuan ummat Islam mampu membuktikan diri sebagai penggerak terdepan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan tersebut.  Namun kemajuan ilmu pengetahuan dunia Islam hingga saat ini terus menurun drastis seiring dengan terkikisnya kandungan nilai-nilai Islam dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern semakin meluncur tanpa melibatkan aspek wahyu.

Komitmen terhadap Islam sebagai petunjuk dalam menuntut ilmu harus ditegakkan. Hal tersebut  agar kita terhindar dari kontaminasi pemikiran yang telah berkembang dalam peradaban Barat yang memang mempunyai paradigma dan filosofi yang berbeda dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Pemikiran tersebut bertumpu kepada pemahaman bahwa manusia sebagai mahluk rasional sehingga ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika yang diatur oleh manusia akan selalu berubah.

Mengembalikan pemahaman ilmu pengetahuan modern sebagai ilmu yang bermuatan nilai (values-laden sccience), bukan ilmu bebas-nilai (value-free science) menjadi suatu keharusan sehingga nilai moral berfondasi ajaran Islam akan selalu melekat dalam ilmu apapun. Bila itu dilakukan Insya Allah kita akan mendapat dua nilai, nilai kesuksesan di dunia dan nilai kesuksesan di akhirat, dan ilmu yang kita pelajari akan menuju kepada Ridho Allah ‘azza wa jalla.

FONDASI PEMIKIRAN

Ilmu itu milik Allah ‘azza wa jalla. Manusia tidak memilikinya dan sifatnya  hanya mempelajari ilmu tersebut. Ide-ide yang muncul baik tertuang dalam kata maupun pemikiran datangnya dari akal, dan akal adalah pemberian dari Allah ‘azza wa jalla  yang menciptakan kita. Sikap inilah yang harus pertama kali kita benamkan dalam-dalam pada pemikiran kita agar saat kita memperoleh ide maka kita yakin bahwa ide tersebut adalah pemberian dari Allah ‘azza wa jalla sehingga kita tidak terjebak dalam kesombongan dan pengkultusan terhadap ide tersebut.

Al Qur’an adalah sumber ilmu dan di dalamnya terdapat kebenaran mutlak bukan kebenaran semu. Kebenaran mutlak hanya datanya dari sang Khaliq -pencipta kita- sedangkan kebenaran semu datang dari manusia yang terkadang bisa salah, bisa dibantah dan bisa diperbaiki. Dengan demikian kita akan meyakini bahwa penjelasan ilmu yang ada di dalam Al Qur’an merupakan sumber informasi yang benar yang terus dipelajari hingga sekarang dan sangat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam Al Qur’an:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat (41): 53).

Ayat  tersebut jelas menginformasikan bahwa manusia harus belajar dari tanda-tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang pada gilirannya akalnya tunduk kepada kebenaran tersebut.

Pentingnya Ilmu Menurut Islam. Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya ayat al-Qur’an yang menyatakan orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadits-hadits nabi yang banyak memberi motivasi bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Informasi tentang ilmu di dalam Al Qur’an banyak sekali, terdapat sekitar 780 kali kata ilmu disebut  di dalam Al Qur’an. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al Qur’an dan Al–Sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi (Ghulsyani 2001).

Islam telah sejak awal menekankan pentingnya membaca, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah yang pertama diturunkan yaitu surat Al-Alaq yang artinya:

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan kamu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”.

Motivasi untuk menuntut ilmu digambarkan Al-Qur’an pada wahyu pertama tersebut di atas. Iqro, itulah redaksi awal perintah tersebut. Kata tersebut mengandung arti luas bukan saja hanya diartikan sebagai perintah “bacalah”, tapi juga lebih diartikan sebagai perintah untuk mempelajari, meneliti, menganalisis, mendalami serta mengetahui. Pada ayat tersebut, tidak disebutkan tentang apa yang harus “dibaca” tetapi memberikan penekanan dengan nama Rabb yang menunjukkan bahwa aktivitas itu harus bernilai ibadah dan secara umum juga bermakna bagi kehidupan. Untuk itu, maka pelajarilah alam sekitar, pelajarilah kehidupan, sampai pelajarilah tentang manusia itu sendiri. Alat untuk mempelajari itupun sudah dipaparkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Potensi yang dimiliki manusia untuk memahami pengetahuan adalah akal, pendengaran, penglihatan, dan hati. Ayat  tersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat Islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu, untuk terus membaca, serta untuk menguasai teknologi. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Dari ayat dan hadits tersebut semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu, yang menunjukkan bahwa menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam. Hal tersebut menjadi semakin kuat dengan pernyataan dalam Al-Qur’an bahwa alam ditundukkan untuk dikuasai manusia sehingga posisi para penuntut ilmu yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim dan muslimah yang tidak bisa diwakilkan kepada siapapun juga, karena ilmu yang kita peroleh akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah ‘azza wa jalla kelak. Firman Allah azza wa jalla dalam Al Qur’an:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Q.S Al-Isra:36).

Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

Memperbaiki niat. Niat pada asalnya mempunyai arti kehendak (al-qasdu). Kemudian niat pada umumnya diartikan sebagai keinginan. Niat kita dalam penuntut ilmu tentunya harus disandarkan kepada kewajiban.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah SAW bersabda:

“Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ahamad dan Ibnu Majah). Dampak dari niatan tersebut akan menjadikan kita sebagai  orang beriman  yang diangkat derajatnya oleh Allah ‘azza wa jalla. Firman Allah ‘azza wa jalla dalam Al Qur’an:

“Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Qur’an Al mujadalah 11)

Dari penjelasan di atas akan mengarahkan kita kepada niatan menuntut ilmu karena ‘azza wa jalla  bukan karena maksud lainnya. Karena sedikit saja niatan kita melenceng maka akan sia-sialah amalan kita dalam menuntut ilmu. Firman Allah ‘azza wa jalla  dalam Al Qur’an:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amalannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. (Al-Kahfi: 103-104)

Ikhlas dalam menuntut ilmu. Keikhlasan adalah kunci untuk memperoleh keridhoan Allah ‘azza wa jalla dalam menuntut  ilmu, tanpa niat ikhlas semua amalan perbuatan yang dilakukan tidak akan memperoleh nilai di hadapan Allah ‘azza wa jalla.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

“Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. ” (HR Abu Dawud)

Dengan demikian sebelum kita berangkat mencari ilmu, modal utama yang harus kita miliki adalah niat kuat karena Allah ‘azza wa jalla. Niat mencari ilmu untuk meraih ridho-Nya sekaligus mengagungkan risalah-Nya. Allah ‘azza wa jalla akan menjamin kesuksesan di dunia dan akhirat bila niatan kita karena-Nya. Sebaliknya semua nilai kebaikan dalam mencari ilmu akan kosong, ketika niat kita bukan karena-Nya. Hanya kebanggaan diri, pujian manusia dan gelar-gelar duniawi saja yang akan diperoleh, sementara di hadapan Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai nilai sama sekali. Sangat merugilah apa yang dilakukan, waktu, tenaga, fikiran dan lain sebagainya hanya untuk memperoleh kenikmatan dunia sementara di akhirat tidak memperoleh apapun bahkan Allah ‘azza wa jalla tidak mengijinkan untuk menghirup wanginya syurga…Na’uzdu billahi min dzalik.

Bila muatan nilai keikhlasan karena ingin mencapai ridho Allah ‘azza wa jalla maka akan diperoleh ilmu yang bermanfaat sesuai sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)

Seperti itulah permisalan ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat kepada dirinya, dengan membuat hatinya semakin lembut, jiwanya semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, serta ahlaknya semakin mulia.

Mengamalkan ilmu. Ketika seseorang mempunyai niatan yang ikhlas dalam menuntut ilmu tentunya sangat memahami bahwa ilmu yang dicari bukan hanya sebatas dimiliki saja akan tetapi mengamalkannya, karena dia yakin bahwa ilmu yang diperolehnya pasti akan ditanya oleh Allah ‘azza wa jalla. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR. Tirmidzi)

Semakin takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebagai buah dari ilmu yang diperolehnya adalah semakin bertambah ilmu nya maka akan semakin takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap Ridho-Nya. Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya yang yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)

Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Rabb-nya.

Marilah kita luruskan niat kita hanya karena mengharapkan balasan Allah semata, karena apa yang ada disisi Allah adalah kekal dan semua yang ada di dunia ini adalah sementara baik harta, jabatan, popularitas, pujian dan lain-lain maka semua itu pasti akan sirna. Firman Allah‘azza wa jalla :

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?.” (Q.S. Al-Qashas : 60).

Allah hanya memberikan sedikit saja tentang ilmu pengetahuan kepada manusia, ibarat mencelupkan ujung jari di lautan, dan setetes air itulah ilmu yang Allah berikan kepada manusia. Masihkah kita merasa sombong? Wallahu a’lam.


EmoticonEmoticon